
PEREBUTAN
ANAK DAN CINTA SEORANG IBU
Judul
:Tragedi Nadra
Penulis : Isa Kamari
Penerbit:
Hikmah (PT Mizan Republika)
Kota
Terbit: Jakarta
Tahun
Terbit: 2008
Penerjemah:
Gita Romadhona
Judul
aslinya "Atas Nama Cinta", karya Isa Kamari, Novel ini adalah pemenang
SEAWRITE Award 2006. Mangun Wijaya
lewat "Burung-Burung
Manyar" pernah juga mendapatkan penghargaan serupa.
Kisah buku non fiksi
ini diangkat dari kejadian nyata di
Singapura tahun 1950. Ketika itu terjadi sengketa atas hak pengasuhan terhadap
seorang anak keturunan Belanda berumur 13 tahun. Antara orangtua kandung dan
orangtua angkatnya yang orang Melayu. Sengketa ini diwarnai isu SARA yang
mengakibatkan terjadinya kerusuhan besar di Singapura.
Di awal bab ada
epilog yang menceritakan Nadra sedang menghadapi persidangan atas dirinya di
Belanda. Melihat sinis suami dan orangtuanya yang hadir disana. Lalu alur
menjadi flashback ke asal muasal kisah ini terjadi. Tepatnya di daerah Cimahi,
Jawa Barat masa pendudukan Jepang tahun 1942. Alur cukup singkat menggambarkan
pertemuan Aminah, janda kaya di kota itu dengan keluarga Nor Louise yang
putrinya sedang hamil.
Di sini cukup nyata
digambarkan penderitaan Adeline yang sedang mengandung sehingga kesulitan
merawat kelima anaknya, sementara sang suami, Adrianus ditahan pasukan Jepang.
Langsung gua terkesima ama keihklasan Aminah yang hendak menolong keluarga
blasteran ini dan juga kesediaannya merawat Maria, anak keempat Adeline karena
Aminah seumur hidupnya kesepakatan Aminah dan Adeline dalam merawat Maria.
Terutama ketika Adeline rela kalau Maria dirawat secara Islam. Sehingga namanya
diubah menjadi Nadra.
Kisah
terus berlanjut hingga ke Desa Kemamam, daerah Trengganu. Disini gua begitu
senang melihat Nadra menemukan kehidupan bahagianya hingga seorang Inggris
melihat dirinya. Sesekali setting juga berpindah ke Belanda melihat Adeline
yang dimarahi Adrianus karena menyerahkan Maria tanpa seizin suaminya itu.
Terlebih setelah tahu Maria dibesarkan secara Islam.
Lalu, klimaks cerita
terjadi di Singapura. Disini gua larut dalam suasana pengadilan, kisah cinta
Nadra dan Mansoor hingga terjadinya kerusuhan. Yang paling hidup adalah ketika
Ketua Liga Muslim Singapura, Karim Ghani berpidato di Mesjid Sultan untuk
membela kehormatan Agama yang dianggap sudah diinjak-injak lewat kasus Nadra
ini. Memang, nasib sudah memisahkan Aminah dan Nadra.
Di akhir cerita, Alur
kembali lagi ke persidangan Maria di Belanda. Saat menutup buku, gua merasa
sangat prihatin atas nasib Maria alias Nadra yang kebahagiaan dan cintanya
tiba-tiba dirampas dengan alasan cinta pula.
Pengarang berhasil
menggambarkan karakter masing-masing tokoh yang memang ada dalam kenyataan ini.
Dan tak lupa beberapa detil lokasi cerita seperti Trengganu dan Singapura.
Namun gua kurang puas, karena mengenai lokasi di tanah air seperti Cimahi,
Bandung dan Batavia minim. Bahasa yang digunakan cirinya sangat Melayu. Begitu
membuai jiwa sehingga gua ikut larut dalam emosi yang diungkapkan penulis.
Buku ini jadi membuka
wawasan gua tentang kejadian yang dahulu pernah terjadi. Apalagi melibatkan
Negeri kita di dalam bagian cerita ini. Satu kejadian yang mestinya jadi
pembelajaran bahwa atas nama cinta, kita bisa bahagia atau juga menderita.
Jangan khawatir
dengan bahasa yang disampaikan dalam novel tersebut. Bahasa yang digunakan
adalah Bahasa Indonesia karena telah diterjemahkan oleh Gita Romadhona. Hampir
tidak ada pemakaian kosakata Melayu yang menggelitik telinga ala film kartun
Upin Ipin. Jikalau masih terasa, yang tersisa hanyalah rasa tipis saja.
Rasa Melayu justru
terasa dari unsur-unsur intrinsik dalam novel ini. Unsur intrinsik adalah
unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang
menjadikan sebuah karya disebut sebagai karya sastra. Hal itu karena terdapat hubungan
antarunsur intrinsik sehingga sebuah novel dapat terwujud. Unsur yang
dimaksud untuk menyebut sebagian saja, misalnya alur, latar, sudut pandang,
tema, tokoh dan lain-lain (Nurgiantoro, 2005:23).
Dalam
novel Memeluk Gerhana terdapat tokoh-tokoh dengan nama Melayu.
Di antaranya adalah Ilham Sidek sebagai tokoh utama. Ditampilkan pula nama
Syakila, Zul, Wak Nasir, Sevan, Badrul, Aisyah, Kak Leha, Pak Osop, Nazira,
Razak, RIyana, Ustaz Saniff, Bang Zulkifli, serta Syaifudin. Selain itu, ada
pula tokoh-tokoh lain yang bernama Cina atau India.
Rasa Melayu juga terasa pada unsur latar
tempat. Sebagai contoh penyebutan latar tempat Kampung Azam, Johor, Kampung
Tawakal, dan Kampung Tekad. Hal itu tampak pada kutipan berikut:
Novel Memeluk Gerhana menarik tidak hanya karena
memiliki rasa Melayu, akan tetapi juga karena novel ini dapat memberi warna
yang lain tentang Singapura. Karena penuturan novel ini, dapat diketahui
sebagian peristiwa di balik kemajuan Singapura. Ada pihak-pihak yang harus berkorban
dengan ketidakadilan.
Sayang, pengungkapan
fakta sejarah sangat terbatas dalam novel ini. Tidak diungkapkan suatu kejadian
besar yang dicatat oleh dunia luar. Sebagian besar novel ini hanya menceritakan
kejadian-kejadian dalam kehidupan pribadi Ilham Sidek. Boleh jadi, hal ini
berkaitan dengan sifat fiksi yang imajinatif.
Fakta sejarah yang
minim ini tidak mengganggu pengungkapan keseluruhan kisah dalam novel ini.
Kekurangan justru terasa pada tahapan alur yang lambat. Antara suatu peristiwa
dan peristiwa yang lain berganti secara lambat. Hal itu karena penuturan novel
ini sangat detail. Semua aspek, bahkan alasan sering disertakan sehingga justru
melelahkan proses pencernaan karya.
Akan tetapi,
secara umum novel ini menarik. Rasa Melayu dapat memberikan variasi pada genre
novel di Indonesia. Tidak salah jika Memeluk Gerhana dijadikan bahan bacaan
untuk mengisi waktu senggang, maupun untuk menuntaskan kegemaran membaca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar