Rabu, 30 Oktober 2013

resensi novel Tragedi Nadra


images (6).jpg


PEREBUTAN ANAK DAN CINTA SEORANG IBU
Judul :Tragedi Nadra
Penulis : Isa Kamari
Penerbit: Hikmah (PT Mizan Republika)
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2008
Penerjemah: Gita Romadhona

Judul aslinya "Atas Nama Cinta", karya Isa Kamari, Novel ini adalah pemenang SEAWRITE Award 2006. Mangun Wijaya lewat "Burung-Burung Manyar" pernah juga mendapatkan penghargaan serupa. 
Kisah buku non fiksi ini  diangkat dari kejadian nyata di Singapura tahun 1950. Ketika itu terjadi sengketa atas hak pengasuhan terhadap seorang anak keturunan Belanda berumur 13 tahun. Antara orangtua kandung dan orangtua angkatnya yang orang Melayu. Sengketa ini diwarnai isu SARA yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan besar di Singapura.
Di awal bab ada epilog yang menceritakan Nadra sedang menghadapi persidangan atas dirinya di Belanda. Melihat sinis suami dan orangtuanya yang hadir disana. Lalu alur menjadi flashback ke asal muasal kisah ini terjadi. Tepatnya di daerah Cimahi, Jawa Barat masa pendudukan Jepang tahun 1942. Alur cukup singkat menggambarkan pertemuan Aminah, janda kaya di kota itu dengan keluarga Nor Louise yang putrinya sedang hamil.
Di sini cukup nyata digambarkan penderitaan Adeline yang sedang mengandung sehingga kesulitan merawat kelima anaknya, sementara sang suami, Adrianus ditahan pasukan Jepang. Langsung gua terkesima ama keihklasan Aminah yang hendak menolong keluarga blasteran ini dan juga kesediaannya merawat Maria, anak keempat Adeline karena Aminah seumur hidupnya kesepakatan Aminah dan Adeline dalam merawat Maria. Terutama ketika Adeline rela kalau Maria dirawat secara Islam. Sehingga namanya diubah menjadi Nadra.
images (6).jpgKisah terus berlanjut hingga ke Desa Kemamam, daerah Trengganu. Disini gua begitu senang melihat Nadra menemukan kehidupan bahagianya hingga seorang Inggris melihat dirinya. Sesekali setting juga berpindah ke Belanda melihat Adeline yang dimarahi Adrianus karena menyerahkan Maria tanpa seizin suaminya itu. Terlebih setelah tahu Maria dibesarkan secara Islam.
Lalu, klimaks cerita terjadi di Singapura. Disini gua larut dalam suasana pengadilan, kisah cinta Nadra dan Mansoor hingga terjadinya kerusuhan. Yang paling hidup adalah ketika Ketua Liga Muslim Singapura, Karim Ghani berpidato di Mesjid Sultan untuk membela kehormatan Agama yang dianggap sudah diinjak-injak lewat kasus Nadra ini. Memang, nasib sudah memisahkan Aminah dan Nadra. 
Di akhir cerita, Alur kembali lagi ke persidangan Maria di Belanda. Saat menutup buku, gua merasa sangat prihatin atas nasib Maria alias Nadra yang kebahagiaan dan cintanya tiba-tiba dirampas dengan alasan cinta pula.
Pengarang berhasil menggambarkan karakter masing-masing tokoh yang memang ada dalam kenyataan ini. Dan tak lupa beberapa detil lokasi cerita seperti Trengganu dan Singapura. Namun gua kurang puas, karena mengenai lokasi di tanah air seperti Cimahi, Bandung dan Batavia minim. Bahasa yang digunakan cirinya sangat Melayu. Begitu membuai jiwa sehingga gua ikut larut dalam emosi yang diungkapkan penulis.
Buku ini jadi membuka wawasan gua tentang kejadian yang dahulu pernah terjadi. Apalagi melibatkan Negeri kita di dalam bagian cerita ini. Satu kejadian yang mestinya jadi pembelajaran bahwa atas nama cinta, kita bisa bahagia atau juga menderita.
Jangan khawatir dengan bahasa yang disampaikan dalam novel tersebut. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia karena telah diterjemahkan oleh Gita Romadhona. Hampir tidak ada pemakaian kosakata Melayu yang menggelitik telinga ala film kartun Upin Ipin. Jikalau masih terasa, yang tersisa hanyalah rasa tipis saja.
Rasa Melayu justru terasa dari unsur-unsur intrinsik dalam novel ini. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menjadikan sebuah karya disebut sebagai karya sastra. Hal itu karena terdapat hubungan antarunsur intrinsik sehingga sebuah novel dapat terwujud. Unsur yang dimaksud untuk menyebut sebagian saja, misalnya alur, latar, sudut pandang, tema, tokoh dan lain-lain (Nurgiantoro, 2005:23).
images (6).jpgDalam novel Memeluk Gerhana terdapat tokoh-tokoh dengan nama Melayu. Di antaranya adalah Ilham Sidek sebagai tokoh utama. Ditampilkan pula nama Syakila, Zul, Wak Nasir, Sevan, Badrul, Aisyah, Kak Leha, Pak Osop, Nazira, Razak, RIyana, Ustaz Saniff, Bang Zulkifli, serta Syaifudin. Selain itu, ada pula tokoh-tokoh lain yang bernama Cina atau India.
 Rasa Melayu juga terasa pada unsur latar tempat. Sebagai contoh penyebutan latar tempat Kampung Azam, Johor, Kampung Tawakal, dan Kampung Tekad. Hal itu tampak pada kutipan berikut:
          Novel Memeluk Gerhana menarik tidak hanya karena memiliki rasa Melayu, akan tetapi juga karena novel ini dapat memberi warna yang lain tentang Singapura. Karena penuturan novel ini, dapat diketahui sebagian peristiwa di balik kemajuan Singapura. Ada pihak-pihak yang harus berkorban dengan ketidakadilan.
Sayang, pengungkapan fakta sejarah sangat terbatas dalam novel ini. Tidak diungkapkan suatu kejadian besar yang dicatat oleh dunia luar. Sebagian besar novel ini hanya menceritakan kejadian-kejadian dalam kehidupan pribadi Ilham Sidek. Boleh jadi, hal ini berkaitan dengan sifat fiksi yang imajinatif.
Fakta sejarah yang minim ini tidak mengganggu pengungkapan keseluruhan kisah dalam novel ini. Kekurangan justru terasa pada tahapan alur yang lambat. Antara suatu peristiwa dan peristiwa yang lain berganti secara lambat. Hal itu karena penuturan novel ini sangat detail. Semua aspek, bahkan alasan sering disertakan sehingga justru melelahkan proses pencernaan karya.
 Akan tetapi, secara umum novel ini menarik. Rasa Melayu dapat memberikan variasi pada genre novel di Indonesia. Tidak salah jika Memeluk Gerhana dijadikan bahan bacaan untuk mengisi waktu senggang, maupun untuk menuntaskan kegemaran membaca.